You Are Here: Home » Berita » Artikel Kesehatan » Buta Warna Tetap Dapat Menggenggam Dunia

Buta Warna Tetap Dapat Menggenggam Dunia

Buta Warna Tetap Dapat Menggenggam Dunia*

Prieharti**

 

Selama ini persepsi sebagian orang tentang buta warna adalah penderita sama sekali tidak dapat membedakan warna. Sebetulnya penderita buta warna hanya mengalami kekurangan atau kelemahan mengenali warna-warna tertentu

 

Buta warna merupakan salah satu gangguan pada penglihatan warna. Gangguan tersebut terjadi karena sel-sel kerucut di dalam retina mengalami kelemahan atau kerusakan sehingga kesulitan menangkap spektrum warna tertentu. Buta warna terjadi karena berbagai sebab diantaranya; karena menderita penyakit yang dapat mengakibatkan buta warna, mengonsumsi obat-obatan tertentu, mengalami kejadian seperti kecelakaan/trauma pada mata atau karena keturunan (diturunkan secara genetik). Laki-laki berpotensi menderita buta warna lebih besar (sampai sekitar 8%) dibandingkan perempuan (hanya 1%).

Mendeteksi buta warna

Seseorang dikategorikan buta warna setelah melalui pemeriksaan. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti uji anamaloskop, uji Fransworth 100 hue, uji Holmgren dan uji Ishihara. Uji Ishihara merupakan uji penglihatan yang menjadi pilihan utama di banyak negara. Uji ini terbilang cukup sederhana karena alat bantunya berupa buku. Buku ini diciptakan Dr. Shinobu Ishihara sehingga terkenal sebagai buku Ishihara.

Uji Ishihara menggunakan satu seri titik bola kecil dengan warna dan besar yang berbeda-beda (gambar  pseudokromatik). Hal ini akan membuat keseluruhan warna terlihat pucat dan menyulitkan orang untuk melihatnya. Penderita buta warna hanya dapat melihat sebagian saja atau bahkan sama sekali tidak dapat melihat gambaran yang diperlihatkan.

Jenis-jenis buta warna                

Berdasarkan bentuknya, ada tiga jenis buta warna yaitu; trikromasi, dikromasi dan monokromasi. Orang yang mengalami trikromasi dan dikromasi disebut menderita buta warna parsial (sebagian). Sedangkan penderita monokromasi disebut mengalami buta warna total. Pada monokromasi, penderita mengalami kehilangan semua penglihatan warna.

Pada trikomasi, sel kerucut mengalami perubahan tingkat sensivitas warna (melemah). Hal ini akan menimbulkan penderita buta warna jenis ini kesulitan mengenali satu jenis warna dasar. Bila yang dialami adalah kelemahan mengenal warna merah disebut protanomali, kesulitan mengenal warna hijau disebut deutranomali sedangkan kondisi kesulitan mengenali warna biru disebut tritanomali.

Dikromasi merupakan keadaan ketika satu dari tiga jenis sel kerucut tidak ada. Ada tiga jenis dikromasi yaitu; protanopia (sel kerucut warna merah tidak ada), deutranopia (sel kerucut warna hijau tidak ada) dan tritanopia (tidak ada sel kerucut warna biru). Pada protanopia, penderita tidak bisa melihat warna merah sebagai satu warna dan akan terlihat sebagai warna abu-abu. Penderita deutranopia akan melihat warna hijau sebagai abu-abu sehingga bila melihat warna merah, merah muda, kuning dan hijau menjadi bingung. Sedangkan pada buta warna tritanopia , tidak adanya sel kerucut warna biru membuat penderitanya mengalami kesulitan ketika membedakan warna merah atau warna kuning.

Penanganan buta warna

Meskipun pada kasus buta warna akibat obat dapat diatasi dengan menghentikan konsumsi obat-obatan tersebut, buta warna pada dasarnya tidak dapat diobati baik dengan pengobatan herbal, vitamin mata, atau terapi lainnya. Penanganan buta warna dimaksudkan agar penderita tidak menemui kesulitan saat beraktivitas sehari-hari.

Apabila tujuan utama penanganan buta warna adalah agar dapat lolos dalam tes kesehatan warna sehingga dapat bekerja atau kuliah di tempat yang kita inginkan, bisa diatasi dengan mempelajari tingkat kecerahan warna atau mempelajari buku Ishihara. Penggunaan kaca mata buta warna atau lensa kontak khusus juga dapat menjadi solusi. Kaca mata untuk penderita buta warna telah diketemukan oleh Mark Changizi, ilmuwan dari Amerika Serikat. Dengan kaca mata ini penderita buta warna akan dapat membedakan warna. Kaca mata ini harganya masih sangat mahal dan harus didatangkan dari luar Indonesia.

Kondisi ini memunculkan kreativitas Nurul Annisa dan Syarif Muhammad Nur Taufik pelajar SMA Negeri 4 Pontianak. Mereka mengadakan percobaan dengan menggunakan lensa kontak (seperti yang dijual di optik) yang direndam dalam cairan ekstrak (kayu) secang selama 24 jam. Cara ini terbukti dapat membantu penderita buta warna parsial. Sebelum digunakan, lensa kontak tadi disterilisasi agar tidak menimbulkan iritasi. Meskipun efektivitas lensa kontak ini hanya bertahan 8 jam, namun cukup membantu penderita buta warna dalam beraktivitas.

Menderita buta warna bukan berarti tidak dapat sukses dalam kehidupan. Selain dengan solusi di atas, dapat dicoba dengan mencari pekerjaan atau program studi yang tidak mensyaratkan buta warna. Usahakan memahami bahwa dibalik kekurangan pasti ada kelebihan yang dianugerahkan Tuhan. Senantiasa berpikiran positif dan hilangkan rasa pesimis menghadapi masa depan.

Beberapa tokoh terkenal dan sukses ternyata juga menderita buta warna. Mark Twain, Paul Newman, Bill Cosby, John Dalton dan Mark Zuckerberg adalah sebagian diantaranya. Orang-orang yang disebutkan tadi menjadikan kelemahannya (buta warna) bukan sebagai penghalang namun sebaliknya sebagai pelecut semangat untuk meraih kesuksesan.

 

*telah dimuat di Banyumas Pos

**berkarya di Akbid YLPP Purwokerto

 

Referensi:

  1. Ilmu Penyakit Mata/Sidarta Ilyas. Jakarta: BP FKUI,2014.
  2. Ilmu Perawatan Mata/Sidarta Ilyas. Jakarta: Sagung Seto, 2004.
  3. Sistem Koordinasi dan Alat Indera pada Manusia/Rahmat O. Bandung: Sarana Ilmu, 2009.
  4. https://fitrahmata.worpress.com diakses tgl 29/01/2015
  5. http://health.detik.com diakses tgl 26/01/2015
  6. http://www.kedokteran.info diakses tgl 23/01/2015
  7. http://solusibutawarna.com diakses tgl 23/01/2015

Leave a Comment

Copyright © 2013. AKBID YLPP Purwokerto. All rights reserved. Develop by WordPress Services

Scroll to top